Saya adalah pemerhati sekaligus pelaku independent non faksi yang melakukan penetrasi keluar masuk domain seni rupa visual dan seni suara audio sonik. Menelisik di balik bilik, bolak balik simpul simpul narasi tersembunyi dalam perkara apapun; baik di kancah seni rupa visual maupun di blantika audio kekinian yang nggak kini kini amat,pun hal hal random lainnya. Jadi ini adalah semacam wadah bagi saya untuk menelisik lebih jauh tentang apapun yang mengusik dan menggelisahkan kepala; sebuah ruang yang memang sengaja saya bebaskan dari sekat dan domain, karena acapkali kegelisahan saya tidak punya kewajiban untuk patuh pada kategori apapun.
Melacak Logika Internal #1 ; Kedaulatan Subyek Di Tengah Simulasi Berlapis
Karya visual maupun auditif yang aku buat bukanlah sebuah representasi dari dunia luar. Ia bukan jendela untuk melihat pemandangan,melainkan sebuah mediator artikulasi. Aku menggunakan media rupa ataupun suara sebagai “Sanedtarium“,yakni sebuah perangkat untuk mengerti dan memahami sirkuit logika di dalam diriku sendiri.
Selama ini, narasi besar seringkali mendikte bagaimana sebuah karya , bagus atau tidaknya sebuah karya,mesti dimaknai melalui konsensus publik sebagai semacam validasi sistem eksternal, yang menurutku cenderung materialistic logic oriented yang mana karya laku, banyak diminati publik di pasaran akan dianggap berkualitas, meski tak ada hal lain /perspektif lain yang ditawarkan selain akrobat teknik yang berulang dan usang.
Namun, melalui MA (multipolar Alternative), aku memilih untuk mengambil jarak pandang terdekat dari skala besar dominasi narasi arus besar semacam itu. Melalui MA aku memposisikan diriku sebagai Subyek yang berdaulat, sejauh ini dalam investigasi personalku, bisa dikatakan aku adalah Subyek semacam Sub Programmer di dalam sebuah ruang simulasi berlapis.
Apa itu ” Logika Internal ” ?
Logika Internal bagiku adalah sebuah Operating System yang bekerja secara otonom di balik setiap goresan dan bunyi. Memang saat aku dalam proses eksekusi berkarya nampak mengalir bebas, bergerak dari satu kanvas ke kanvas yang lain dalam suatu waktu secara simultan,terkesan impulsif dan instingtif seperti laiknya anak anak bermain, atau bisa dibilang seperti orang kerasukan, dalam kondisi in trance atau altered state. Namun menurutku kebebasan itu bukan berarti tanpa filter, melainkan keputusan terstruktur dan logis seturut logika internalku melalu semacam sistem validasi internal gitu lah…
Jadi, setiap keputusan tentang warna,penempatan kolase, hingga derajat kemiringan kuas dan cat sedemikian rupa sehingga,,,hehehe…:-)senantiasa melewati validasi sistem estetik internal yang tentu saja sangat personal. Oleh karenanya gestur yang nampak bebas , instingtif,impulsif bahkan nampak chaotic itu sesungguhnya adalah matematika proses internal yang diartikulasikan secara visual.
Dalam Internal Logic #1 ini aku pengen menegaskan satu hal , bahwa proses seniku sampai di sini untuk memastikan bahwa Operating System Internalku tetap berdaulat di tengah simulasi berlapis. Dan aku bertanggungjawab penuh atas setiap baris kode visual atau frekuensi audio yang aku eksekusi.
Ini adalah awal dari upaya aku mengurasi dan maping data memori yang kompleks melaui bahasa otonom-subyektif personal.
(to be continued nanti nanti yaaa ke “Tracking Internal Logic #2 ….)
“Entrance #11” karya Santi Saned Rupaku ( investigasi visual,output data “Arsitektur Kesadaran”#1)
multi polar mempunyai lebih dari satu kutub (kbbi)
Alternative
Artinya pilihan strategis atau pilihan lain,sesuatu yang berbeda dari sesuatu yang lain dan menawarkan kemungkinan pilihan-pilihan antara dua atau di antara kemungkinan-kemungkinan/pilihan-pilihan lain di luar dari yang sudah di pilih atau pilihan di luar mainstream.
Multipolar Alternative bagiku merupakan suatu mekanisme alternative survival ,MA memiliki spirit membangun kekuatan,kelenturan,resiliensi,sebagai cara berdaulat atas diri sebagai subyek dalam peneguhan ekesistensi dan aktualisasi diri di tengah medan pertarungan ideologi hegemoni dominasi ,khususnya di domain seni/kesenian.
MULTIPOLAR ALTERNAIVE
Bertolak dari individu ,personal, subyektive, bersifat otonom atau independent, post tradisi, multi dimensi.
“PERSONAL SUBYEKTIF”
Bertolak dari individu sebagai Subyek yang membaca realitas. ( realitas keseluruhan; internal-eksternal). Aku membangun perspektif realitas berdasar kapasitas subyektif personalku . Bisa jadi atas dasar narasi dominan akan menganggapku membangun ilusi/ mimpi. Tapi menurutku,Ini bisa menjadi semacam antitesa/ menegasikan stigma stigma yang dihasilkan dari narasi besar/ hegemoni / narasi dominan. Aku menolak tafsir tafsir realitas yang dibangun oleh narasi dominan.
Tetap bertolak dari realitas yang sama, bagaimanapun narasi dominan memang sudah terkodifikasi dalam system limbic & berkontribusi membentuk pemahamanku, tapi aku pikir ini tidaklah 100%, tetap ada sisa prosentase dari narasi dominan yang bisa dipakai untuk menafsir ulang atas realitas itu sendiri.Disinilah Realitasku hadir, di antara arus dominan. Biar arusku kecil, tapi mengalir sampai jauh. hehehe.
“OTONOMI”
Otonom adalah berdaulat sepenuhnya atas diri sebagai subyek yang tentunya tidak terlepas dari realitas realitas yang meliputi kediriannya. Baik realitas internal (inner world; yang bersifat personal, subyektif,”kesadaran” yang terbangun terkait dengan memori personal ) maupun realitas eksternal/outer world; yg bersifat obyektif) . Sifat otonom disini lebih menitikberatkan pada bagaimana individu sebagai subyek di hadapan realitas eksternal yang bersifat obyektif, “kesadaran” yang terbangun terkait dengan memori kolektif, yang memiliki watak hegemoni; dibangun seolah atas dasar “konsensus/ kesepakatan” yang cenderung memangkas memori personal/ subyektif. Sehingga yang terjadi adalah budaya atau tipudaya hegemoni yang dianggap atau diamini sebagai semacam “Roh Obyektif” dengan mengebiri “Roh Subyektif”
Nah, otonom disini bisa diartikan sebagai sebuah posisi yang mengambil jarak pandang terdekat, mengambil jarak dari “obyektifitas” untuk masuk pada subyektifitas personal individu dalam membaca realitas.
“POST TRADISI”
Sebagai konsekuensinya aku harus menanggalkan identitas terkait dengan kesejarahan yang dibangun atas narasi dominan. Sekali lagi aku tidak menafikkan bahwa realitas sejarah itu sudah terkodifikasi sedemikian rupa,terbentuk secara estafet, turun temurun, berdasar narasi dominan yang tentunya itu membentuk kedirianku. Kenapa harus ditanggalkan ? ya karena narasi dominan itu memang memiliki sifat status quo & tentunya dominasi akan senantiasa menjaga bagaimana sejarah itu tetap terwariskan, tetap terjaga,dan akan terus berjalan sebagai system/ mesin penggerak arus hegemoni dominasi.
Dalam wilayah pertarungan hegemoni dan dominasi,MA menjadi pijakan dan sikap atau semacam peneguhan aktulisasi diri atas medan seni, dsb,.
MA tidak memposisikan diri sebagai sebuah himbauan atau ajakan untuk “merubah dunia” atau global,tetapi merupakan pembacaan atas realitas terdekat berdasar kapasitas subyektive atau personal atas obyektifitasi sejarah yang ada yang menjadi konsesus yang diamini sebagai obyektivitas.
Melalui MA, aku tidak berupaya hendak menghegemoni akan tetapi aku mengartikulasikan diri dengan menghadirkan perspektive yang berbeda dari persepektive yang dibangun atas hegemoni narasi.
Melalui MA aku membangun sejarahku sendiri berdasar atribut atribusi yang menyertai sejauh kapasitas personalku,tanpa atribusi atribusi/ isu isu yang menyoal tradisi yang berwatak hegemoni,yang menggunakan isu tradisi sebagai alat identitas kultural membangun dominasi narasi , pun ideologi2 dominan yang menggunakan tradisi sebagai identitas kultural/ instrumen politik mereka, yang nampaknya seolah olah oposisi terhadap status quo, seolah olah menawarkan angin segar di tengah himpitan hidup, dengan iming iming kesejahteraan, keadilaan, kesetaraan, kemanusiaan yang adil dan beradab, dan bla bla bla…. yang ujung ujungnya tak lain dan tak bukan adalah pengambilalihan kekuasaan, dan hasilnya tetap sama saja yakni dominasi hegemoni baru, dengan membangun sistim nilai/ standarisasi atribusi/ nilai nilai atas realitas. Alhasil yang terjadi sebenarnya hanyalah pertarungan/ perebutan dominasi narasi atas realitas.
MA mengambil jarak pandang terdekat dari skala besar, berada pada sebagian wilayah prosentase kecil dari kodifikasi narasi dominan , bukan dalam arti resistensi akan tetapi mengambil sudut / jarak pandang/perspektif/ordinat/ standing posisition yang berbeda di luar perseturuan kepentingan dominasi hegemoni narasi.
BAGAIMANA MENERJEMAHKAN MA DALAM PROSES BERKESENIANKU ?
Melalui MA, aku sebagai subyek/kreator/ seniman mengartikulasikan diri melalaui media apapun baik,lukis/seni rupa,musik/seni musik. Bukan lagi soal media atau genre genre /tidak terpolarisasi pada jenis jenis,aliran aliran atu pada hal hal yang bersifat permukaan atau tekhnis semata . Karya seniku tidak menitik beratkan pada tekhnis visual/object an sich tetapi lebih pada ide gagasan dalam artian bagaimana sang subjek menjadi parameter/ titik tolak sebuah karya.
Karya Seni, dalam perspektif MA tidak memiliki standarisasi obyektif yang dibangun atas arus dominasi ( karena ini bersifat relatif yaa,,). Meskipun hal ini diwacanakan juga pada seni kontemporer, yang artinya hal ini memang bersifat relative / tidak hitam putih, akan tetapi tetap saja kembali bertolak pada subyek sebagai seniman/ kreator dalam membaca realitas. Aku tidak menafikkan bahwa karyaku memiliki nuansa kontemporer ( tidak an sich )/ memiliki irisan di wilayah kontemporer ( dimana “kontemporer’ ini adalah narasi besar dominan, yang bersifat mengakomodir semua elemen , dan terbentuk atas estafet kesejarahan arus dominan/ fase fase sejarah sebelumnya/ irisan irisan arus dominan yang terakomodir menjadi wacana kontemporer )
Melalui MA , Aku sebagai subyek menarik elemen kontemporer ke ranah subyektif personal, semua hal yang bersifat skala besar yang diamini sebagai konsensus publik/ kesepakatan publik mesti ditarik lebih dekat ke wilayah personal subyektif.
Pembeda individualisme MA dengan individualisme yang dibangun atas narasi besar dominan ( baca ; kontemporer ) ?
Individualisme MA tidak cukup berdasar secara kekaryaan yang bertema personal semata ( tematis teknis) tapi kekuataannya pada narasi/ide, gagasan / statement yang menjadi landasan, yang bersifat mendasar sekaligus menyeluruh meliputi proses bagaimana proses karya itu sendiri terlahir. Sementara individualisme yang dibangun atas narasi dominan, memiliki kecenderungan tak lebih sebagai eksekutor dari narasi yang ada/ sudah menjadi kesepakatan publik.
Pembeda Karya berbasis Narasi ala MA dengan karya berbasis narasi ala kontemporer
Narasi pada MA berdasar kapasitas subyek pelaku/ personal, narasi yg sifatnya bukan ideologis,/narasi besar, bukan pada wilayah resistensi ataupun merubah , ada muatan ‘liberalisasi ‘seni yang artinya tidak lagi dibebani oleh dikotomi dikotomi narasi besar dominan. Identitas kesenimanan adalah pada narasi bukan lagi pada karya yang dihasilkan/ bagaimana subyek berproses.
Kalau dilihat secara karya ( teknis maupun tematis) yaa gak ada bedanya karya MA atau karya seniman produk kontemporer.Pembedanya adalah terletak pada narasi ( narasi berbeda dengan konsep karya yaa). Narasi adalah landasan berfikir atau pernyataan sikap subyek pelaku / seniman. Jadi, tetap ujung tombak dari sebuah karya sebagai parameter/titik tolaknya adalah seniman/kreator /Subyek .
Siang itu,ditengah deras hujan,petir menyambar2 .(haha mulai dah lebayy!)saya bertandang ke studio Kalahan Heri Dono,untuk mengunjungi gelaran pameran tunggal kawan saya Faisal,yang sebenarnya belum terlalu lama saya mengenalnya,mngkin bberapa bulan belakangan ini.
Sesampainya di sana, nampaklah ia tengah duduk seorang diri dengan secangkir kopi ,sembari menghisap dalam2 rokok yg nampak tinggal seperempat batang,,mngkin itu rokok yg tersisa yg ia punya,yg mngkin saja itu jugak sisa rokok kemaren dari hasil ngutang di warung sebelah.hehe..Cucian deh luh !
Saya segera menghampirinya,dan pastinya mengucapkan selamat atas terlaksananya pameran tunggalnya, tak selang lama kemudian langsung melihat karya karyanya yg terpajang sebanyak 20 karya.
Rupa2nya ini kali ke 4 Faisal menggelar pameran tunggalnya. Sejauh saya mengenal sosok kawan saya satu ini ,memanglah seorang pribadi yg unik,kritis,ceriwiss,nampak songong,arogan,over pede,selonongboy,propokatif,antagonis,argumentatif,debater,,sok paling rasional, kepala batu,,sok berkredo “questions everything follow no one , do your own riset !”
Wokayyy dah !
Melihat karya2 rupanya,sekilas (kesan awal)nampak figur figur naive ,aneh,imajinatif, dekoratif, garis dan sapuan cat terkesan rigid,, seperti tidak ada ledakan gejolak emosi ,tidak ada sapuan kuas liar,spontan,tajam,menghujam ,atau penekanan sisi personal yg kuat. Ditambah dengan warna warna yg dominan monokromatik.
Sepertinya Faisal memang tidak menawarkan estetika dengan penekanan pada sisi eksplorasi personal yg dominan.
Bagi saya karya Faisal cukup menarik,menggelitik, memantik pertanyaan & keingintauhan saya,karena saya melihat ada hal yang berbeda yg coba Faisal tawarkan,di tengah hirukpikuk wacana senirupa kontemporer kekinian ,dengan tematik yg cenderung seragam,dan lebih mengedepankan kemampuan teknis semata tanpa muatan/gagasan yang mampu memicu pemikiran lebih lanjut dan lebih jauh, yang tentu saja setidaknya mampu membuka ruang ruang dialektika,di medan percaturan senirupa khususnya.
Saya melihat,Faisal mencoba menyuguhkan sebuah wacana alternatif di wilayah sejarah kebudayaan peradaban manusia. Ia mencoba menarik garis jauh ke belakang,di era 60.000an tahun lalu,ketika manusia masih berburu dan tinggal di gua gua,dimana manusia di saat itu pernah berinteraksi dengan makhluk asing. Jejak jejak ini nampak pada artefak2 yg ditinggalkan oleh mereka berupa lukisan2 di gua gua,seperti yg ditemukan di Kimberley Australia, di gurun Sahara,Afrika,dst.
Pun nampak jelas tervisualkan pada karya karya Faisal. Ini menandakan bhw karya2 yg dibuat Faisal itu memang berbasis data,dimana ia sendiri melakukan riset secara mandiri, dengan membaca,diskusi,menggali informasi ,dll.
Sebagai contoh dlm karyanya “The Anchestor who gave the rain down” ,” Dalam karya tersebut nampak figur2 makhluk asing yg digambarkan bercahaya dengan latar belakang aktivitas perburuan dan penampakan benda2 asing terbang yg sekarang dikenal sebagai UFo.
Dalam karya “The Grey” ada gambaran interaksi langsung makhluk2 asing tersebut sedang mengajarkan bagaimana cara berburu dan menunjukkan konstelasi bintang tempat mereka “alien”berasal.
Ada jugak karya Faisal yg berjudul “Kendaraan Langit”,dalam karya tersebut nampak rumah gadang ,rumah tradisional Minang, yg diduga merupakan sebuah kendaraan “dewa”/makhluk asing. Sebenernya konsep/ pola arsitektur semacam itu ada beberapa bisa ditemukan tidak hanya di masyarakat Minang saja,kita bisa tengok di Toraja. Bagaimana pola arsitektur baik dari ornamen, konsep,interior ,dll yg nampaknya rumit, yang sepertinya mustahil dihasilkan oleh suatu sistem masyarakat pada waktu itu. Seperti halnya bangunan pyramid yg sampai saat ini pun masih menjadi kontroversi.
Dari gelaran pameran Anomalien ini, saya coba menangkap bahwasanya Faisal mempunyai “kesimpulan” bahwa pengetahuan yang membentuk sistem masyarakat , sebagai suatu budaya, bukanlah lahir hasil dari proses evolusi melainkan merupakan pemberian dari makhluk asing yg mereka sebut dengan berbagai macam nama dan hal ini dapat ditemukan di berbagai tempat di seluruh dunia.
Ehmmmm,,
Cukup menggelitik, membuat saya mempertanyakan ulang perihal bagaimana sejarah peradaban itu terbentuk?
Apa iyaa siy,manusia hanya menerima begitu saja,,tanpa ada proses kemandirian untuk membangun dan mengembangkan kebudayaannya sendiri ??
Saya sendiri memahami sejarah ada 2 sisi,yakni:
1.sejarah sebagai peristiwa faktual( obyektif),&
2. sejarah sebagai persepsi/cara pandang….
Dimana hal ini terus bergerak dinamis,yg melahirkan ruang ruang kemungkinan kemungkinan baru…
So,,keberadaan alien dan anomaliennya itu yaa mngkiin saja memang ada & pernah terjadi,,kenapa tidak ?
Memungut Ingatan, Menyemai harapan, Menyusuri Teka Teki pada sela antara Dongeng dan Fakta.
“Jejak Dino-Muazaurus ,dari titik Azimut ke Back Azimut, melompat ke dalam sumur tua lalu berlayar di lautan pasifik, menyelami palung Mariana hingga Golden Triangle, sampai purnama tiba, lalu bertemu kupu kupu putih”
Bagaimana manusia sebagai individu yang senantiasa meng’Ada’, dikepung oleh spektrum realitas yang melingkupi dirinya, melalui seperangkat yang pada mulanya berupa tanda tanda,isyarat, yang seolah senantiasa meminta bahkan sekonyong konyong berbondong bondong menodong,hadir membanjir ,seperti berteriak meronta ronta memaksa untuk diberangkatkan, yang seringkali bikin langkah kita tergopohgopoh ,bahkan macet di tengah jalan. Hihihi….hikz_ (biasaaa, seringkali terjadi di kota kota besar !)
Demikian sekian tanda tanda senantiasa berjejalan serupa semiotika kota mengepung diri jika ia tak mau berhenti pada satu titik, jika ia menolak binasa, jika ia ingin terus hidup, terus meng’Ada’ dalam ruang waktu hidup yang senantiasa bergerak, yang tentunya beresonansi membentuk konstruksi berupa symbol beserta makna yang kemudian disepakati oleh sekelompok individu di suatu masyarakat tertentu, sebagai refleksi budaya. Tentu manusia sebagai individu maupun kelompok tidak bisa lepas dari sekian tanda, isyarat yang hadir dan tak kuasa untuk menolak. Karena selama Ada ruang waktu hidup, selama hayat dikandung badan , fenomena isyarat, tanda ,serta symbol ,pergerakan pemaknaan pemaknaan, dari frame ke frame, dari satu symbol ke symbol berikutnya , merupakan keniscayaan.
Seperti yang dinyatakan oleh Cassier , tentang filsafat symbol, bahwa manusia adalah makhluk simbolik atau “animal smbolicum’,makhluk simbolik yang suka bersimbol. Simbolisasi merupakan alat dan tujuan bagi kebutuhan hidup manusia.
Ada semacam kebutuhan dasariah atau bisa dikatakan pokok manusia akan symbol, sebagai sebuah keberangkatan, titik tolak untuk semua penangkapan atas realitas hidup ruang waktu.yang lebih luas dari pemikiran, penggambaran dan tindakan. Simbol merupakan representasi mental dari subyek yang menyatakan sesuatu hal atau mengandung maksud tertentu.
Bertolak dari subyek ,seorang Muazaurus saya menyebutnya,adalah rekan saya yang sejauh saya mengenalnya adalah seorang seniman berdarah muda yang senantiasa bergolak jiwanya,bagaikan gelegak lautan di segitiga bermuda.hahaha..
Mengapa saya menyebutnya Muazarus tentu bukan tanpa alasan, karena saya melihat hampir sebagian besar atau mungkin semua karya karya Muaz memiliki “subject matter” dalam bentuk figure Dinozaurus yang selalu ia hadirkan, sebagai bentuk personalisasi atas dirinya, atau mungkin semacam alter ego, yang mungkin saja tanpanya ia merasa tiada,atau kehilangan diri,menjadi bukan lagi Muaz. Demikianlah mengapa, Muaz dan dino saya melihatnya adalah identik, seperti tak terpisahkan tak bisa lepas. Pernah saya coba telisik, apa gerangan alasan di baliknya ? Apakah Muaz dengan sengaja meminjam sosok Dino untuk membentuk suatu ciri khas sebagai identifikasi dalam karya rupanya ? Atau sikap malu malu seorang budiman menampilkan diri secara langsung sebagai Aku tanpa harus diwakilkan sosok lain sebagai personifikasi ? Tentu saja tidak mungkin serta merta mengada begitu saja dari sebuah ketiadaan,sekalipun nampaknya bebas nilai, tanpa ada alasan di sebaliknya. Rupa rupanya , hal ini terkait erat dengan ingatan masa kanak kanak Muaz yang dekat sekali dengan figure Dino,dimana ia banyak mengoleksi mainan mainan Dinozaurus, juga seringkali menonton film film tentang Dinozaurus. Yang mana ingatan ini mengeram dalam bawah sadarnya, dan seringkali merembes jauh di masa kemudian, lewat karya rupa yang Muaz buat,yang mana di mata saya sosok Dino ini adalah pribadi yang nampak budiman,bersahaja,bersahabat, riang ceria, jenaka, penuh semangat antusiasme,penuh rasa ingin tahu , imajinatif, meski terkesan naïve, dan sama sekali tak nampak sedikitpun kesan menyeramkan dan senang menyerang seperti penggambaran penggambaran sosok dinozaurus pada umumnya . Meski Muaz mengakui bahwa kehadiran sosok Dino pada rupa karyanya tak sepenuhnya ia sadari mula mulanya . Oleh karena kemunculannya yang teramat sering dan seolah tak terhindarkan , menjadi pemantik atas sadarnya untuk menghadirkan sosok Dino pada rupa karyanya,sebagai representasi dirinya, dengan alasan yang menurut saya terkesan agak naïve dan tergesa, tapi cukup menggelitik, bahwa sosok Dino dirasa Muaz cukup mewakili suatu nilai nilai kepurbaan sebagai sesuatu yang bersahaja, sederhana, tak banyak gincu,polesan, dan ornament ornament yang tidak perlu ,yang dirasanya mulai luntur di masa kini.
Sebagai pribadi yang memiliki sikap terbuka pada hidup, dan selalu antusias menyambut sekian tanda tanda, isyarat, dan jejak jejak symbol yang menghampirinya di sepanjang perjalanannya, dan seringkali membuat hasrat keingintahuannya yang cukup tinggi menjadi terusik dan terpantik, seperti ketika ia menjumpai symbol segitiga dengan gambar mata di tengahnya, yang dikenal sebagai symbol iuminati,yang dirasanya sangat menganggu, baik dari sisi visual ataupun pemaknaan atasnya. Lantas ia mulai bermain main secara visual terhadapnya,dengan mengambil sudut kebalikan 180 derajat dari titik azimuth, menjadi back azimuth, yang serta merta ia plesetkan menjadi black azimuth, dan ia menemukan sebuah pemaknaan yang berbeda, yang nampaknya ia coba tawarkan lewat karya rupanya.
Melihat karya Muaz, saya rasa nampak bagaimana antusiasme kanak kanak, kegairahan, energi seorang Muazaurus, yang senantiasa bertanya, sekaligus sedia menerima kejutan kejutan yang di tawarkan oleh hidup dengan sikap takjub seorang kanak kanak. Seperti halnya ketika ia seringkali menjumpai seekor kupu kupu putih di halaman rumahnya, seolah meninggalkan jejak jejak yang dengan setianya ia ikuti, ia susuri dengan penuh keriangan,seakan akan alam semesta bekerja, berbicara , atau mungkin mendongeng untuknya lewat serangkaian tanda tanda, isyarat isyarat ,jejak jejak symbol, yang seringkali hadir seolah olah seperti serangkaian kebetulan, yang bukan kebetulan, yang kemudian ia coba dengar, ia baca, ia tafsir, dan memberikan pemaknaan atasnya, sekaligus mengafirmasikannya lewat karya karya rupanya.
Ketika dihadapkan pada karya Muaz, saya menangkap bahwasannya, secara tersirat terselubung seorang Muaz seolah mengajak kita untuk mempertanyakan kembali logika rasionalitas atau mencoba merenungi kembali terkait bagaimana alam semesta bekerja dan bagaimana kita sejauh ini menciptakan makna makna terhadapnya.
Melalui karya karya rupanya,seorang Muazaurus hendak mencoba membagi cerita atau kisah dari apa yang ia alami, bagaimana ia menyelami sekian tanda tanda atau symbol symbol yang senantiasa hadir hilir mudik membanjiri dirinya, dan seakan memintanya untuk segera di berangkatkan.
Maka berangkatlah ia, dalam pelayaran tunggal pameran dengan berbekal “Believe on symbolic Trail”, secercah keyakinan dan harapan, serta spirit bajak laut yakni keberanian, pemberontakan, keteguhan,kegigihan menghadapi badai, lengkap dengan muatan amunisi yang berupa bulir bulir padi, jagung,jelai, biji bijian tanaman eksotik,obat-obatan, serta kisah kisah dari negeri yang jauh tentang peri,putri duyung, gurita raksasa, serta penyihir yang mengutuk pelaut jadi dugong.
“Selamat berlayar mengarungi lautan tak bertepi, yang kita kenal sebagai dunia mungkin, dan kemungkinan dunia. Semoga kamu tidak tersesat karena gangguan roh jahat dan tidak dikutuk oleh penyihir jadi dugong. Dan semoga lagi ,Black Azimuth akan senantiasa memenuhi ruang ruang doa dan pengharapanmu. Dan sampai jumpa pada kisah kisah menakjubkan selanjutnya !”
Santi saned,
Pemerhati iseng yang ditodong untuk menulis oleh bajak laut budiman yang bukan sudjatmiko