sanedtarium

dynamic possibilities

Saya adalah pemerhati sekaligus pelaku independent non faksi yang melakukan penetrasi keluar masuk domain seni rupa visual dan seni suara audio sonik. Menelisik di balik bilik, bolak balik simpul simpul narasi tersembunyi dalam perkara apapun; baik di kancah seni rupa visual maupun di blantika audio kekinian yang nggak kini kini amat,pun hal hal random lainnya. Jadi ini adalah semacam wadah bagi saya untuk menelisik lebih jauh tentang apapun yang mengusik dan menggelisahkan kepala; sebuah ruang yang memang sengaja saya bebaskan dari sekat dan domain, karena acapkali kegelisahan saya tidak punya kewajiban untuk patuh pada kategori apapun.

Memungut Ingatan, Menyemai harapan, Menyusuri Teka Teki pada sela antara Dongeng dan Fakta.

“Jejak Dino-Muazaurus  ,dari titik Azimut  ke Back Azimut, melompat ke dalam sumur tua lalu berlayar di lautan pasifik, menyelami palung  Mariana hingga Golden Triangle, sampai purnama tiba, lalu bertemu kupu kupu putih”

Bagaimana manusia  sebagai individu yang  senantiasa meng’Ada’, dikepung oleh spektrum realitas  yang melingkupi dirinya, melalui seperangkat yang pada mulanya berupa tanda tanda,isyarat, yang seolah senantiasa meminta bahkan sekonyong konyong berbondong bondong menodong,hadir membanjir ,seperti berteriak meronta ronta memaksa untuk diberangkatkan, yang seringkali bikin langkah kita tergopohgopoh ,bahkan macet di tengah jalan. Hihihi….hikz_ (biasaaa, seringkali terjadi di kota kota besar !)

Demikian sekian tanda tanda senantiasa berjejalan serupa semiotika kota mengepung diri  jika ia  tak mau berhenti pada satu titik, jika ia menolak binasa, jika ia ingin terus hidup, terus meng’Ada’ dalam ruang waktu hidup yang senantiasa bergerak, yang tentunya beresonansi membentuk konstruksi berupa symbol beserta makna yang kemudian disepakati oleh sekelompok individu di   suatu masyarakat tertentu, sebagai refleksi budaya. Tentu manusia sebagai individu maupun kelompok tidak bisa lepas dari  sekian tanda, isyarat  yang hadir dan tak kuasa untuk menolak. Karena selama Ada ruang waktu hidup, selama hayat dikandung badan , fenomena isyarat, tanda ,serta symbol ,pergerakan pemaknaan pemaknaan, dari  frame ke frame, dari satu symbol ke symbol berikutnya , merupakan keniscayaan.

Seperti yang dinyatakan oleh Cassier , tentang filsafat symbol, bahwa manusia adalah makhluk simbolik atau “animal smbolicum’,makhluk simbolik yang suka  bersimbol. Simbolisasi merupakan alat dan tujuan bagi kebutuhan hidup manusia.

Ada semacam kebutuhan dasariah atau bisa dikatakan pokok manusia  akan symbol, sebagai sebuah keberangkatan,  titik tolak untuk semua penangkapan atas realitas hidup ruang waktu.yang lebih luas dari pemikiran, penggambaran dan tindakan. Simbol merupakan representasi mental dari subyek yang menyatakan sesuatu hal atau mengandung maksud tertentu.

Bertolak dari subyek ,seorang Muazaurus saya menyebutnya,adalah rekan saya yang sejauh saya mengenalnya adalah seorang seniman berdarah muda yang senantiasa bergolak jiwanya,bagaikan gelegak lautan di segitiga bermuda.hahaha..

Mengapa saya menyebutnya Muazarus tentu bukan tanpa alasan, karena saya melihat hampir sebagian besar atau mungkin semua karya karya Muaz memiliki “subject matter” dalam bentuk figure Dinozaurus yang selalu ia hadirkan, sebagai bentuk personalisasi atas dirinya, atau mungkin semacam alter ego, yang mungkin saja tanpanya ia merasa tiada,atau kehilangan diri,menjadi bukan lagi Muaz. Demikianlah mengapa, Muaz dan dino  saya melihatnya adalah identik, seperti tak terpisahkan tak bisa lepas. Pernah saya coba telisik, apa gerangan alasan di baliknya ? Apakah Muaz dengan sengaja meminjam sosok Dino untuk membentuk suatu ciri khas sebagai identifikasi dalam karya rupanya ? Atau sikap malu malu seorang budiman menampilkan diri secara langsung sebagai Aku tanpa harus diwakilkan sosok lain sebagai personifikasi ? Tentu saja tidak mungkin serta merta mengada begitu saja dari sebuah ketiadaan,sekalipun nampaknya bebas nilai, tanpa ada alasan di sebaliknya. Rupa rupanya , hal ini terkait erat dengan ingatan masa kanak kanak Muaz yang dekat sekali dengan figure Dino,dimana ia banyak mengoleksi mainan mainan Dinozaurus, juga seringkali menonton film film tentang Dinozaurus. Yang mana ingatan ini mengeram dalam bawah sadarnya, dan seringkali merembes  jauh di masa kemudian, lewat karya rupa yang Muaz buat,yang mana di mata saya sosok Dino ini  adalah pribadi yang nampak budiman,bersahaja,bersahabat, riang ceria, jenaka, penuh semangat antusiasme,penuh rasa ingin tahu , imajinatif, meski terkesan naïve, dan sama sekali tak nampak sedikitpun kesan menyeramkan dan senang menyerang seperti penggambaran penggambaran sosok dinozaurus pada umumnya .  Meski Muaz mengakui bahwa kehadiran sosok Dino pada rupa karyanya tak sepenuhnya ia sadari mula mulanya . Oleh karena kemunculannya yang teramat sering dan seolah tak  terhindarkan , menjadi pemantik atas sadarnya untuk menghadirkan sosok Dino pada rupa karyanya,sebagai representasi dirinya, dengan alasan yang menurut saya terkesan agak naïve dan tergesa, tapi cukup menggelitik, bahwa sosok Dino dirasa Muaz  cukup mewakili suatu nilai nilai kepurbaan  sebagai sesuatu yang bersahaja, sederhana, tak banyak gincu,polesan, dan ornament ornament yang tidak perlu ,yang dirasanya mulai luntur di masa kini.

Sebagai pribadi yang memiliki sikap terbuka pada hidup, dan selalu antusias menyambut sekian tanda tanda, isyarat, dan jejak jejak symbol yang menghampirinya di sepanjang perjalanannya, dan seringkali membuat hasrat keingintahuannya yang cukup tinggi menjadi terusik dan terpantik, seperti ketika ia menjumpai symbol segitiga dengan gambar mata di tengahnya, yang dikenal sebagai symbol iuminati,yang dirasanya sangat menganggu, baik dari sisi visual ataupun pemaknaan atasnya. Lantas ia mulai bermain main secara visual terhadapnya,dengan mengambil sudut kebalikan 180 derajat dari titik azimuth, menjadi back azimuth, yang serta merta ia plesetkan menjadi black azimuth, dan ia menemukan sebuah pemaknaan yang berbeda, yang nampaknya ia coba tawarkan lewat karya rupanya.

Melihat karya Muaz, saya rasa nampak bagaimana antusiasme kanak kanak, kegairahan, energi  seorang Muazaurus, yang senantiasa bertanya, sekaligus sedia menerima kejutan kejutan yang di tawarkan oleh hidup dengan sikap takjub seorang kanak kanak. Seperti halnya ketika ia seringkali menjumpai seekor kupu kupu putih di halaman rumahnya, seolah meninggalkan jejak jejak yang dengan setianya ia ikuti, ia susuri dengan penuh keriangan,seakan akan alam semesta bekerja, berbicara , atau mungkin mendongeng untuknya lewat serangkaian tanda tanda, isyarat isyarat ,jejak jejak symbol, yang seringkali hadir seolah olah seperti serangkaian kebetulan, yang bukan kebetulan, yang kemudian ia coba dengar, ia baca, ia tafsir, dan memberikan pemaknaan atasnya, sekaligus mengafirmasikannya lewat karya karya rupanya.

Ketika dihadapkan pada karya Muaz,  saya menangkap bahwasannya, secara tersirat terselubung seorang Muaz seolah mengajak kita untuk mempertanyakan kembali logika rasionalitas atau mencoba merenungi kembali terkait bagaimana alam semesta bekerja dan bagaimana kita sejauh ini menciptakan makna makna terhadapnya.

Melalui karya karya rupanya,seorang Muazaurus hendak mencoba membagi cerita atau kisah dari apa yang ia alami, bagaimana ia menyelami sekian tanda tanda atau symbol symbol yang senantiasa hadir hilir mudik membanjiri dirinya, dan seakan memintanya untuk segera di berangkatkan.

Maka berangkatlah ia, dalam pelayaran tunggal pameran  dengan berbekal “Believe on symbolic Trail”, secercah keyakinan dan harapan, serta spirit bajak laut yakni keberanian, pemberontakan, keteguhan,kegigihan menghadapi badai, lengkap dengan  muatan amunisi yang berupa bulir bulir padi, jagung,jelai, biji bijian tanaman eksotik,obat-obatan, serta kisah kisah dari negeri yang jauh tentang peri,putri duyung, gurita raksasa, serta penyihir yang mengutuk pelaut jadi dugong.

“Selamat berlayar mengarungi lautan tak bertepi, yang kita kenal sebagai dunia mungkin, dan kemungkinan dunia. Semoga kamu tidak tersesat karena gangguan roh jahat dan tidak dikutuk oleh penyihir jadi dugong. Dan semoga lagi ,Black Azimuth akan senantiasa memenuhi ruang ruang doa dan pengharapanmu. Dan sampai jumpa  pada kisah kisah menakjubkan selanjutnya !”

Santi saned,

Pemerhati iseng yang ditodong untuk menulis oleh bajak laut budiman yang bukan sudjatmiko

Sailing to Mariana_Muaz Giras
Posted in

Tinggalkan komentar