sanedtarium

dynamic possibilities

Saya adalah pemerhati sekaligus pelaku independent non faksi yang melakukan penetrasi keluar masuk domain seni rupa visual dan seni suara audio sonik. Menelisik di balik bilik, bolak balik simpul simpul narasi tersembunyi dalam perkara apapun; baik di kancah seni rupa visual maupun di blantika audio kekinian yang nggak kini kini amat,pun hal hal random lainnya. Jadi ini adalah semacam wadah bagi saya untuk menelisik lebih jauh tentang apapun yang mengusik dan menggelisahkan kepala; sebuah ruang yang memang sengaja saya bebaskan dari sekat dan domain, karena acapkali kegelisahan saya tidak punya kewajiban untuk patuh pada kategori apapun.

Siang itu,ditengah deras hujan,petir menyambar2 .(haha😂🤪 mulai dah lebayy!)saya bertandang ke studio Kalahan Heri Dono,untuk mengunjungi  gelaran pameran tunggal kawan saya Faisal,yang sebenarnya belum terlalu lama saya mengenalnya,mngkin bberapa bulan belakangan ini.

Sesampainya di sana, nampaklah ia tengah duduk seorang diri dengan secangkir kopi ,sembari menghisap dalam2 rokok  yg nampak tinggal seperempat batang,,mngkin itu rokok yg tersisa yg ia punya,yg mngkin saja itu jugak sisa rokok kemaren dari hasil ngutang di warung sebelah.hehe😁..Cucian deh luh ! 

Saya segera menghampirinya,dan pastinya mengucapkan selamat atas terlaksananya pameran tunggalnya, tak selang lama kemudian langsung melihat karya karyanya yg terpajang sebanyak 20 karya.

Rupa2nya ini kali ke 4 Faisal menggelar pameran tunggalnya. Sejauh  saya mengenal sosok kawan saya satu ini ,memanglah seorang pribadi yg unik,kritis,ceriwiss,nampak songong,arogan,over pede,selonongboy,propokatif,antagonis,argumentatif,debater,,sok paling rasional, kepala batu,,sok berkredo “questions everything follow no one , do your own riset !”

 Wokayyy dah !👌

Melihat karya2 rupanya,sekilas (kesan awal)nampak figur figur naive ,aneh,imajinatif, dekoratif, garis dan sapuan cat terkesan rigid,, seperti tidak ada ledakan gejolak emosi ,tidak ada sapuan kuas   liar,spontan,tajam,menghujam ,atau penekanan sisi personal yg kuat. Ditambah dengan  warna warna yg dominan monokromatik.

Sepertinya Faisal memang tidak menawarkan estetika dengan penekanan pada sisi eksplorasi personal yg dominan. 

Bagi saya karya Faisal cukup menarik,menggelitik, memantik pertanyaan & keingintauhan saya,karena saya melihat ada hal yang berbeda yg coba Faisal tawarkan,di tengah hirukpikuk wacana senirupa kontemporer kekinian ,dengan tematik yg cenderung seragam,dan lebih mengedepankan kemampuan teknis semata tanpa muatan/gagasan yang mampu memicu pemikiran lebih lanjut dan lebih jauh, yang tentu saja setidaknya mampu membuka ruang ruang dialektika,di medan percaturan senirupa khususnya.

Saya melihat,Faisal mencoba menyuguhkan sebuah wacana alternatif di wilayah sejarah kebudayaan peradaban manusia.  Ia mencoba menarik garis jauh ke belakang,di era 60.000an tahun lalu,ketika manusia masih berburu dan tinggal di gua gua,dimana manusia di saat itu pernah berinteraksi dengan makhluk asing. Jejak jejak ini nampak pada  artefak2 yg ditinggalkan oleh mereka berupa lukisan2 di gua gua,seperti yg ditemukan di Kimberley Australia, di gurun Sahara,Afrika,dst.

Pun nampak jelas tervisualkan  pada karya karya Faisal. Ini menandakan bhw karya2 yg dibuat Faisal itu memang berbasis data,dimana ia sendiri melakukan  riset secara mandiri, dengan membaca,diskusi,menggali informasi ,dll. 

Sebagai contoh dlm karyanya “The Anchestor who gave the rain down” ,” Dalam karya  tersebut nampak figur2 makhluk asing yg digambarkan bercahaya dengan latar belakang aktivitas perburuan dan penampakan benda2 asing terbang yg sekarang dikenal sebagai UFo.

 Dalam karya “The Grey” ada gambaran interaksi langsung makhluk2 asing tersebut sedang mengajarkan bagaimana cara berburu dan menunjukkan konstelasi bintang tempat mereka “alien”berasal. 

Ada jugak karya Faisal   yg berjudul “Kendaraan Langit”,dalam karya tersebut nampak rumah gadang ,rumah tradisional Minang, yg diduga merupakan sebuah kendaraan “dewa”/makhluk asing.  Sebenernya konsep/ pola arsitektur semacam itu ada beberapa bisa ditemukan tidak hanya di masyarakat Minang saja,kita bisa tengok di Toraja. Bagaimana pola arsitektur  baik dari ornamen, konsep,interior ,dll yg nampaknya  rumit, yang sepertinya mustahil dihasilkan oleh suatu sistem masyarakat pada waktu itu. Seperti halnya bangunan pyramid yg sampai saat ini pun masih menjadi kontroversi. 

Dari gelaran pameran Anomalien ini, saya coba menangkap bahwasanya Faisal  mempunyai “kesimpulan” bahwa pengetahuan yang membentuk sistem masyarakat , sebagai suatu budaya, bukanlah lahir hasil dari proses evolusi melainkan merupakan pemberian dari makhluk asing yg mereka sebut dengan berbagai macam nama dan hal ini dapat ditemukan di berbagai tempat di seluruh dunia.

Ehmmmm,,

Cukup menggelitik, membuat saya mempertanyakan ulang perihal bagaimana sejarah peradaban itu terbentuk?

Apa iyaa siy,manusia hanya menerima begitu saja,,tanpa ada proses kemandirian untuk membangun dan mengembangkan kebudayaannya sendiri ?? 

Saya sendiri memahami sejarah ada 2 sisi,yakni:

1.sejarah sebagai peristiwa faktual( obyektif),& 

2. sejarah sebagai persepsi/cara pandang….

Dimana hal ini terus bergerak dinamis,yg melahirkan ruang ruang kemungkinan kemungkinan baru…

So,,keberadaan alien dan anomaliennya itu yaa mngkiin saja memang ada & pernah terjadi,,kenapa tidak ? 

-santi saned-

Pemerhati  iseng independen

Posted in

Tinggalkan komentar