MULTIPOLAR ALTERNATIVE
(MA)
Semacam kredo kesenian/ manifesto Santi Saned
Multipolar
multi polar mempunyai lebih dari satu kutub (kbbi)
Alternative
Artinya pilihan strategis atau pilihan lain,sesuatu yang berbeda dari sesuatu yang lain dan menawarkan kemungkinan pilihan-pilihan antara dua atau di antara kemungkinan-kemungkinan/pilihan-pilihan lain di luar dari yang sudah di pilih atau pilihan di luar mainstream.
Multipolar Alternative bagiku merupakan suatu mekanisme alternative survival ,MA memiliki spirit membangun kekuatan,kelenturan,resiliensi,sebagai cara berdaulat atas diri sebagai subyek dalam peneguhan ekesistensi dan aktualisasi diri di tengah medan pertarungan ideologi hegemoni dominasi ,khususnya di domain seni/kesenian.
MULTIPOLAR ALTERNAIVE
Bertolak dari individu ,personal, subyektive, bersifat otonom atau independent, post tradisi, multi dimensi.
“PERSONAL SUBYEKTIF”
Bertolak dari individu sebagai Subyek yang membaca realitas. ( realitas keseluruhan; internal-eksternal). Aku membangun perspektif realitas berdasar kapasitas subyektif personalku . Bisa jadi atas dasar narasi dominan akan menganggapku membangun ilusi/ mimpi. Tapi menurutku,Ini bisa menjadi semacam antitesa/ menegasikan stigma stigma yang dihasilkan dari narasi besar/ hegemoni / narasi dominan. Aku menolak tafsir tafsir realitas yang dibangun oleh narasi dominan.
Tetap bertolak dari realitas yang sama, bagaimanapun narasi dominan memang sudah terkodifikasi dalam system limbic & berkontribusi membentuk pemahamanku, tapi aku pikir ini tidaklah 100%, tetap ada sisa prosentase dari narasi dominan yang bisa dipakai untuk menafsir ulang atas realitas itu sendiri.Disinilah Realitasku hadir, di antara arus dominan. Biar arusku kecil, tapi mengalir sampai jauh. hehehe.
“OTONOMI”
Otonom adalah berdaulat sepenuhnya atas diri sebagai subyek yang tentunya tidak terlepas dari realitas realitas yang meliputi kediriannya. Baik realitas internal (inner world; yang bersifat personal, subyektif,”kesadaran” yang terbangun terkait dengan memori personal ) maupun realitas eksternal/outer world; yg bersifat obyektif) . Sifat otonom disini lebih menitikberatkan pada bagaimana individu sebagai subyek di hadapan realitas eksternal yang bersifat obyektif, “kesadaran” yang terbangun terkait dengan memori kolektif, yang memiliki watak hegemoni; dibangun seolah atas dasar “konsensus/ kesepakatan” yang cenderung memangkas memori personal/ subyektif. Sehingga yang terjadi adalah budaya atau tipudaya hegemoni yang dianggap atau diamini sebagai semacam “Roh Obyektif” dengan mengebiri “Roh Subyektif”
Nah, otonom disini bisa diartikan sebagai sebuah posisi yang mengambil jarak pandang terdekat, mengambil jarak dari “obyektifitas” untuk masuk pada subyektifitas personal individu dalam membaca realitas.
“POST TRADISI”
Sebagai konsekuensinya aku harus menanggalkan identitas terkait dengan kesejarahan yang dibangun atas narasi dominan. Sekali lagi aku tidak menafikkan bahwa realitas sejarah itu sudah terkodifikasi sedemikian rupa,terbentuk secara estafet, turun temurun, berdasar narasi dominan yang tentunya itu membentuk kedirianku. Kenapa harus ditanggalkan ? ya karena narasi dominan itu memang memiliki sifat status quo & tentunya dominasi akan senantiasa menjaga bagaimana sejarah itu tetap terwariskan, tetap terjaga,dan akan terus berjalan sebagai system/ mesin penggerak arus hegemoni dominasi.
Dalam wilayah pertarungan hegemoni dan dominasi,MA menjadi pijakan dan sikap atau semacam peneguhan aktulisasi diri atas medan seni, dsb,.
MA tidak memposisikan diri sebagai sebuah himbauan atau ajakan untuk “merubah dunia” atau global,tetapi merupakan pembacaan atas realitas terdekat berdasar kapasitas subyektive atau personal atas obyektifitasi sejarah yang ada yang menjadi konsesus yang diamini sebagai obyektivitas.
Melalui MA, aku tidak berupaya hendak menghegemoni akan tetapi aku mengartikulasikan diri dengan menghadirkan perspektive yang berbeda dari persepektive yang dibangun atas hegemoni narasi.
Melalui MA aku membangun sejarahku sendiri berdasar atribut atribusi yang menyertai sejauh kapasitas personalku,tanpa atribusi atribusi/ isu isu yang menyoal tradisi yang berwatak hegemoni,yang menggunakan isu tradisi sebagai alat identitas kultural membangun dominasi narasi , pun ideologi2 dominan yang menggunakan tradisi sebagai identitas kultural/ instrumen politik mereka, yang nampaknya seolah olah oposisi terhadap status quo, seolah olah menawarkan angin segar di tengah himpitan hidup, dengan iming iming kesejahteraan, keadilaan, kesetaraan, kemanusiaan yang adil dan beradab, dan bla bla bla…. yang ujung ujungnya tak lain dan tak bukan adalah pengambilalihan kekuasaan, dan hasilnya tetap sama saja yakni dominasi hegemoni baru, dengan membangun sistim nilai/ standarisasi atribusi/ nilai nilai atas realitas. Alhasil yang terjadi sebenarnya hanyalah pertarungan/ perebutan dominasi narasi atas realitas.
MA mengambil jarak pandang terdekat dari skala besar, berada pada sebagian wilayah prosentase kecil dari kodifikasi narasi dominan , bukan dalam arti resistensi akan tetapi mengambil sudut / jarak pandang/perspektif/ordinat/ standing posisition yang berbeda di luar perseturuan kepentingan dominasi hegemoni narasi.
BAGAIMANA MENERJEMAHKAN MA DALAM PROSES BERKESENIANKU ?
Melalui MA, aku sebagai subyek/kreator/ seniman mengartikulasikan diri melalaui media apapun baik,lukis/seni rupa,musik/seni musik. Bukan lagi soal media atau genre genre /tidak terpolarisasi pada jenis jenis,aliran aliran atu pada hal hal yang bersifat permukaan atau tekhnis semata . Karya seniku tidak menitik beratkan pada tekhnis visual/object an sich tetapi lebih pada ide gagasan dalam artian bagaimana sang subjek menjadi parameter/ titik tolak sebuah karya.
Karya Seni, dalam perspektif MA tidak memiliki standarisasi obyektif yang dibangun atas arus dominasi ( karena ini bersifat relatif yaa,,). Meskipun hal ini diwacanakan juga pada seni kontemporer, yang artinya hal ini memang bersifat relative / tidak hitam putih, akan tetapi tetap saja kembali bertolak pada subyek sebagai seniman/ kreator dalam membaca realitas. Aku tidak menafikkan bahwa karyaku memiliki nuansa kontemporer ( tidak an sich )/ memiliki irisan di wilayah kontemporer ( dimana “kontemporer’ ini adalah narasi besar dominan, yang bersifat mengakomodir semua elemen , dan terbentuk atas estafet kesejarahan arus dominan/ fase fase sejarah sebelumnya/ irisan irisan arus dominan yang terakomodir menjadi wacana kontemporer )
Melalui MA , Aku sebagai subyek menarik elemen kontemporer ke ranah subyektif personal, semua hal yang bersifat skala besar yang diamini sebagai konsensus publik/ kesepakatan publik mesti ditarik lebih dekat ke wilayah personal subyektif.
Pembeda individualisme MA dengan individualisme yang dibangun atas narasi besar dominan ( baca ; kontemporer ) ?
Individualisme MA tidak cukup berdasar secara kekaryaan yang bertema personal semata ( tematis teknis) tapi kekuataannya pada narasi/ide, gagasan / statement yang menjadi landasan, yang bersifat mendasar sekaligus menyeluruh meliputi proses bagaimana proses karya itu sendiri terlahir. Sementara individualisme yang dibangun atas narasi dominan, memiliki kecenderungan tak lebih sebagai eksekutor dari narasi yang ada/ sudah menjadi kesepakatan publik.
Pembeda Karya berbasis Narasi ala MA dengan karya berbasis narasi ala kontemporer
Narasi pada MA berdasar kapasitas subyek pelaku/ personal, narasi yg sifatnya bukan ideologis,/narasi besar, bukan pada wilayah resistensi ataupun merubah , ada muatan ‘liberalisasi ‘seni yang artinya tidak lagi dibebani oleh dikotomi dikotomi narasi besar dominan. Identitas kesenimanan adalah pada narasi bukan lagi pada karya yang dihasilkan/ bagaimana subyek berproses.
Kalau dilihat secara karya ( teknis maupun tematis) yaa gak ada bedanya karya MA atau karya seniman produk kontemporer.Pembedanya adalah terletak pada narasi ( narasi berbeda dengan konsep karya yaa). Narasi adalah landasan berfikir atau pernyataan sikap subyek pelaku / seniman. Jadi, tetap ujung tombak dari sebuah karya sebagai parameter/titik tolaknya adalah seniman/kreator /Subyek .
Tinggalkan komentar