Melacak Logika Internal #1 ; Kedaulatan Subyek Di Tengah Simulasi Berlapis
Karya visual maupun auditif yang aku buat bukanlah sebuah representasi dari dunia luar. Ia bukan jendela untuk melihat pemandangan,melainkan sebuah mediator artikulasi. Aku menggunakan media rupa ataupun suara sebagai “Sanedtarium“,yakni sebuah perangkat untuk mengerti dan memahami sirkuit logika di dalam diriku sendiri.
Selama ini, narasi besar seringkali mendikte bagaimana sebuah karya , bagus atau tidaknya sebuah karya,mesti dimaknai melalui konsensus publik sebagai semacam validasi sistem eksternal, yang menurutku cenderung materialistic logic oriented yang mana karya laku, banyak diminati publik di pasaran akan dianggap berkualitas, meski tak ada hal lain /perspektif lain yang ditawarkan selain akrobat teknik yang berulang dan usang.
Namun, melalui MA (multipolar Alternative), aku memilih untuk mengambil jarak pandang terdekat dari skala besar dominasi narasi arus besar semacam itu. Melalui MA aku memposisikan diriku sebagai Subyek yang berdaulat, sejauh ini dalam investigasi personalku, bisa dikatakan aku adalah Subyek semacam Sub Programmer di dalam sebuah ruang simulasi berlapis.
Apa itu ” Logika Internal ” ?
Logika Internal bagiku adalah sebuah Operating System yang bekerja secara otonom di balik setiap goresan dan bunyi. Memang saat aku dalam proses eksekusi berkarya nampak mengalir bebas, bergerak dari satu kanvas ke kanvas yang lain dalam suatu waktu secara simultan,terkesan impulsif dan instingtif seperti laiknya anak anak bermain, atau bisa dibilang seperti orang kerasukan, dalam kondisi in trance atau altered state. Namun menurutku kebebasan itu bukan berarti tanpa filter, melainkan keputusan terstruktur dan logis seturut logika internalku melalu semacam sistem validasi internal gitu lah…
Jadi, setiap keputusan tentang warna,penempatan kolase, hingga derajat kemiringan kuas dan cat sedemikian rupa sehingga,,,hehehe…:-)senantiasa melewati validasi sistem estetik internal yang tentu saja sangat personal. Oleh karenanya gestur yang nampak bebas , instingtif,impulsif bahkan nampak chaotic itu sesungguhnya adalah matematika proses internal yang diartikulasikan secara visual.
Dalam Internal Logic #1 ini aku pengen menegaskan satu hal , bahwa proses seniku sampai di sini untuk memastikan bahwa Operating System Internalku tetap berdaulat di tengah simulasi berlapis. Dan aku bertanggungjawab penuh atas setiap baris kode visual atau frekuensi audio yang aku eksekusi.
Ini adalah awal dari upaya aku mengurasi dan maping data memori yang kompleks melaui bahasa otonom-subyektif personal.
(to be continued nanti nanti yaaa ke “Tracking Internal Logic #2 ….)

“Entrance #11” karya Santi Saned Rupaku ( investigasi visual,output data “Arsitektur Kesadaran”#1)
Tinggalkan komentar