Melacak Logika Internal #2 ; Sirkuit Arus dan Mekanisme Validasi Internal di tengah Malfungsi Hardware
Melanjutkan ke catatan sebelumnya tracking internal logic#1,,
Jika sebelumnya di Internal Logic#1,aku memposisikan diriku sebagai Subyek atau eksekutor programmer,,yang membaca input data yang masuk ,,so pertanyaan selanjutnya, data apa siy yang sebenernya sedang diproses?
Jadi dalam ruang simulasi berlapis ini,MA-OS ( Multipolar Alternative-Operating System ) internalku secara simultan mengelola input yang kubagi jadi 3 arus utama yang saling berkelindan, yaitu :
- Arus bawah ( ini wilayah biologis fungsional dan memori sensorik purbawi)
- Arus Tengah ( menurutku di wilayah inilah berisi hal hal yang terkait dengan “rasa rasa”,”emosi emosi”,atribusi nilai nilai konstruksi yang pernah tertanam/terkodifikasi di dalam diri , konstruksi dogma dogma,,memori sosial,trauma trauma dan semacamnya yang sifatnya ilusif dan menurutku di wilayah inilah yang paling berisik )
- Arus Atas ( Lapisan Rasional Logic) Ia berfungsi sebagai struktur yang mencoba mengorganisir kekacauan data dari arus bawah dan arus tengah menjadi sebuah bentuk yang sekiranya bisa aku pahami secara sadar.

Mekanisme Validasi Internal di Tengah Malfungsi Hardware
Senirupa non representatif yang aku pilih menjadi ” kode murni “, Ia “murni” merekam bagaimana arus data memori tersebut saling berbenturan dan seakan mencari jalan keluar dari atas media kanvas atau apapun.
Dalam proses eksekusi karya, seringkali aku terlihat seperti orang yang sedang trance atau bergerak impulsif. Namun setiap goresan yang nampak chaotic pada visualku sebenernya melewati filter validasi system internalku, Gak ada yang kebetulan ataupun spontan menurutku. Ini bukan tentang bagus atau tidak menurut standart publik, melainkan tentang koherensi. Tanggungjawabku dalam mengeksekusi baris kode visual adalah memastikan bahwa output yang keluar benar benar merupakan hasil sinkronisasi organik dari ke3 arus utama tadi.

Visualisasi Topologi dalam ruang anomali studio Zoom-In saat ini #1

Visualisasi Topologi dalam ruang anomali studio Zoom-In saat ini #2
Saat ini systemku sedang menghadapi variabel ekstrim yakni diagnosa Tumor Otak ( Meningioma Shepanoid Wings Sinistra).Investigasi medis ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2022, sebuah momen yang sangat ironis dan krusial karena bertepatan dengan persiapan dan pelaksanaan Pameran Tunggalku “Innocent Entrance waktu itu. Meski gejala awalnya sudah aku rasakan sejak tahun 2019. Yang ternyata berdasar MRI di tahun 2024 mengalami eskalasi massa menjadi 3,9cm x 3,1cm. Secara teknis ini adalah “hardware error”, kronis yang menyerang tepat di pusat pemrosesan sinyal bagiku. Tentu saja kondisi ini terus menerus memberikan tekanan fisik luar biasa pada sirkuit zarafku selama bertahun tahun lamanya,menciptakan disorientasi dan tekanan fisiologis fisik yang nyata adanya, akan tetapi malfungsi fisik bukanlah alasan bagi MA-OS internalku untuk berhenti beroperasi.Proses selanjutnya di studio Zoom-In saat ini adalah upaya berkelanjutan untuk menjaga kedaulatan logika internal di atas segala malfungsi fisik yang ada . Bagiku, karya kuanggap selesai saat system validasi internalku memberikan sinyal “valid”, dimana saat sirkuit tersebut mencapai titik koherensi yang mapan seturut logika internalku sendiri.
Tantangan biologis ini diperberat lagi dengan kondisi kerja di studio zoom in , sebuah ruang anomali yang jauh lebih sempit dengan jarak pandang terbatas, dibanding studio lamaku. Untuk mengeksekusi kanvas besar (2 meter misalnya) dengan jarak pandang sangat terbatas, sembari mengelola tekanan tumor otak memaksa Operating Systemku bekerja dalam mode real time processing yang ekstrim dan melakukan rendering mental yang luar biasa berat. Aku memang tidak pernah membayangkan atau merencanakan gambaran visual utuh di kepala sebelum eksekusi karya, semuanya kubiarkan mengalir begitu saja secara organik… Namun, saat mata terkunci pada fragmen makro yang sangat dekat, tentu saja OS internalku secara otomatis menjaga koherensi struktur antar bagian tanpa aku harus melihatnya secara fisik dari jauh. Maksudku gini,,,meskipun aku tidak punya gambaran awal yang utuh, tapi sistem di kepalaku tetap mengingat posisi dan energi goresan di area lain yang tidak tertangkap mata saat itu. Disinilah rendering mental bekerja paling keras kurasakan, bagaimana menyatukan kepingan kepingan “spontan” itu menjadi satu sirkuit logis yang utuh, bahkan ketika jarak pandang fisikku sedang dieliminasi oleh kesempitan ruang atau keterbatasan jarak pandang, ditambah tekanan massa tumor, Ini jadi semacam proses navigasi buta yang hanya mengandalkan sinkronisasi organik dari sirkuit arusku, dan secara tidak langsung Logika Internalku bekerja dengan sendirinya, melakukan mapping mandiri untuk memastikan setiap koordinat visual menjadi utuh, tetap sinkron satu sama lain meskipun aku sedang bergerak secara impulsif di tengah tekanan massa tumor 3,9cmx 3,1cm, di tambah keterbatasan ruang yang ada yang memang nyata adanya.
well,okay,, kupikir segini aja dulu yaa, lnjut lagi nanti di Tracking Logic Internal #3….
Tinggalkan komentar